Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 37

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 37by adminon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 37My HEROINE [by Arczre] – Part 37 BAB XVII: ZERO VS GNOME-X #PoV Narator# Gnome-X menggunakan mode Face Off dengan mode ini Helm Gnome-X terbuka dan tampaklah mulut Yuda dengan gigi yang gemertuk. Air liurnya menetes seperti anjing yang kelaparan. Tidak hanya itu saja. Bahunya, punggungnya mengeluarkan hembusan energi yang besar. Sayap yang ada di […]

tumblr_nvzb6lfS0O1qa67nco2_500 tumblr_nvzb6lfS0O1qa67nco3_500 tumblr_nvzb6lfS0O1qa67nco4_250My HEROINE [by Arczre] – Part 37

BAB XVII: ZERO VS GNOME-X

#PoV Narator#

Gnome-X menggunakan mode Face Off dengan mode ini Helm Gnome-X terbuka dan tampaklah mulut Yuda dengan gigi yang gemertuk. Air liurnya menetes seperti anjing yang kelaparan. Tidak hanya itu saja. Bahunya, punggungnya mengeluarkan hembusan energi yang besar. Sayap yang ada di belakang tubuhnya makin lebar dengan cahaya putih menyilaukan. Armor Gnome-X pun mengeluarkan garis di lengan dada dan kakinya. Garis itu bercahaya berwarna biru cerah.

Ryu yang ada di bawah tampak tertegun.

“Hana-chan, Han Jeong-chan, pergi dari sini!” kata Ryu. “Tempat ini berbahaya!”

Hana dan Han Jeong segera berlari meninggalkan tempat itu. Yuda membuka mulutnya dari helm yang terbuka itu terkumpul sebuah energi listrik yang besar, semuanya menyatu fokus ke satu titik kemudian dari titik itu terkumpul sebuah bola energi yang sangat besar.

“Apa itu?” gumam Ryu. “Apa aku harus menggunakan Banzai Mode? Mode itu cuma tiga menit, aku tak mungkin bisa mengalahkan Gnome-X hanya dalam waktu tiga menit. Apa yang harus aku lakukan? Profesor! Profesor! Kamu bisa dengar aku?”

Tak ada jawaban.

Gnome-X menjerit lagi, “GRRROOOAAAAAAAAAAGGGHHH!”

Dari bola energi yang terkumpul di mulut helm Gnome-X menembaklah sebuah sinar beam besar melesat ke salah satu titik kota Jakarta. Kemudian …..BLLLLAAARRR! sebuah ledakan dahsyat bom berkekuatan tinggi menghancurkan sebagian kecil daerah kota Jakarta. Orang-orang yang saat itu tengah asyik berteduh di bawah hujan pun menemui ajal mereka, tanpa disangka-sangka. Orang-orang pun panik. Mereka berlarian, tanpa tahu apa yang terjadi.

Gnome-X mengamuk tak terkendali. Dia menembakkan lagi energi beamnya, ke semua arah. Segera saja dari hasil tembakannya itu ledakan beruntun bak seperti lokomotif yang berjalan di atas jalur rel kereta api merembet dengan ledakan-ledakan yang mengalir seperti air.

Ryu tak pernah mengira kekuatan Gnome-X sangat besar. Mau tak mau ia harus mengeluarkan Banzai Mode-nya sekalipun cuma sedikit waktu.

“Yuda, aku harus melakukannya. Kalau tidak kamu akan menghancurkan semuanya Banzai Mode!,” seru Ryu.

Ilustrasi Banzai Mode
Seketika itu armor Zero mengeluarkan cahaya. Di punggungnya muncul beberapa benda yang mengeluarkan energi. Warna armornya pun berubah menjadi bercahaya. Dan di helmnya muncul sebuah tanduk runcing di ujungnya.

“Hora hora hora!” Ryu pun mengeluarkan energi dari kakinya dan kini ia bisa terbang. “Cukup 3 menit, aku akan mengalahkanmu Gnome-X!”

“ROOOAAAAARRGGHHH!” Yuda telah melupakan instingnya sebagai seorang manusia. Dia hanya ingat dirinya haus darah. Ryu sudah melayang di hadapannya, mereka berdua berada di udara. Sedetik kemudian keduanya saling berbenturan.

BLEDAR!
BLEDAR!
BLEDAR!
BLEDAR!

Gerakan keduanya sangat cepat. Bahkan tak bisa diikuti oleh mata orang biasa. Ryu masih memakai kedua pedangnya. Hantaman kekuatan Gnome-X sangat luar biasa, bahkan boleh dibilang tenaga mereka imbang. Meskipun begitu Ryu tetap tak bisa menggores kulit Adamantium dari Gnome-X. Rasanya kedua katananya tak mampu menggores tubuh Gnome-X.

Ryu kembali mengeluarkan jurus-jurus Kaze no Ryuu-nya. Kaze no Ryu wa Taifu o Fuku kembali dikeluarkan kali ini putarannya seperti taifun, mendesak Gnome-X. Gnome-X terdorong hingga terbang melayang mundur jauh ke belakang, hampir saja menghantam ke sebuah gedung bertingkat.

“RRROOOOOAAARRGGHH!” kembali Yuda menjerit. Dari punggungnya dia mengeluarkan cahaya dari energi pendorong membuatnya secepat kilat menerjang Ryu. Ryu tercekik. Dia dan Gnome-X kemudian berputar-putar di udara lalu jatuh di atas sebuah bangunan mall.

BLAAM!

Orang-orang yang ada di dalam mall langsung panik. Sebagian di antara mereka ada yang mengabadikan peristiwa itu dengan kamera ponsel. Mereka heran apa yang terjadi. Ledakan apa? Apa yang baru saja menjebol atap mall? Begitu mereka melongok di lantai bawah, tampak Zero dan Gnome-X sedang bertarung. Gnome-X menduduki Zero dan menghantam wajah Zero.

DUESSH!
DUESSH!
DUESSH!
DUESSH!

“Konayaroooo!” Ryu kemudian mendorong Gnome-X agar menjauh darinya dengan tenaga pendorong yang ada di punggungnya. Gnome-X pun terdorong. Ryu seperti melempar Gnome-X. Tubuh Yuda pun terlempar hingga menghantam dan masuk ke salah satu stand di mall itu. Orang-orang panik, terlebih melihat bagaimana mengerikannya wajah Gnome-X. Separuh helmnya terbuka dan menampakkan gigi-gigi Yuda yang siap menerkam siapapun.

Ryu dengan susah payah berdiri. Ia mengatur nafasnya. Tampak armornya retak-retak di sana-sini akibat dari pertempuran yang baru saja ia lalui. Akibat dari pena-pena tajam yang dimiliki oleh Bram, juga akibat pertempurannya dengan Kazuki. Belum lagi dengan Gnome-X.

“Ryu Matsumoto!? Kamu bisa mendengarku?” tanya sebuah suara.

“Siapa ini?” tanya Ryu.

“Aku Ai, Artificial Intelegence yang ada di dalam Gnome-X. Yuda sedang lepas kendali karena chip yang tertanam di keningnya. Aku sekarang sedang berusaha untuk menyembuhkan dia. Apa aku bisa minta bantuanmu untuk menahan Yuda sekuat tenagamu?” tanya Ai.

“Hah? Kenapa tidak kamu matikan saja sistemnya?” tanya Ryu.

“Kalau sistem Gnome-X mati, aku tak bisa melakukan apapun terhadap Yuda. Satu-satunya kesempatan adalah kamu bertahan apapun yang terjadi, selama aku bisa menyembuhkan Yuda,” kata Ai. “Di Face Off Mode ini dia hanya bertahan dua menit lagi.”

“Dua menit? Sama seperti Banzai Mode-ku. Baikrah. Hattake koi!” Ryu sudah tegak berdiri.

“Ryu? Ini aku profesor Andy. Maaf tidak menjawabmu tadi. Di sini kacau,” kata Profesor Andy di alat komunikasinya tiba-tiba.

“Ada apa prof?”

“Kota diserang monster.”

“Apa?”

“Iya, gedung M-Tech diserang sebagian. Kita benar-benar dalam kondisi tidak berdaya. Listrik sempat dipadamkan. Monsternya benar-benar mengamuk. Beberapa jet tempur dan tank dari militer sudah dikerahkan untuk menggempur monster ini. Pusat kota sekarang ini seperti medan pertempuran. Apa yang terjadi di sana?”

“Gnome-X repas kendari, Hana dan Han Jeong tidak apa-apa. Aku sekarang sedang merawan Gnome-X. Tadi aku merihat Presiden ada di sini. Bagaimana dia bisa mengendarikan besi? Rasanya tak masuk akaru!”

“Aku akan coba menghidupkan komputer dan masuk ke sistem Gnome-X, sementara itu kamu bertahanlah!”

“Aku sudah diminta bertahan oleh dua orang.”

“Oh ya? Siapa satunya?”

“Ai, Arutifisiaru Interejensu yang ada di daram Jinomu Ekusu”

“Itu kabar baik!” seru profesor Andy.

“Apa kabar profesor,” kata Ai.

“Oh, hai Ai,” sapa profesor.

“Aku sedang mencoba mentralisir signal yang membuat Yuda lepas kendali,” kata Ai.

“Oke, komputerku sudah menyala. Bisa kamu kirimkan datanya ke aku Ai?” tanya profesor.

“Segera prof,” ujar Ai.

Gnome-X bangkit lagi sekarang. Dia pun menjerit lagi, “GRROOOAAAAAAAAAAAAAHHHH!”

“Maaf kawan-kawan, aku sangat sibuk sekali sekarang,” kata Ryu. “Kalian berusahalah!”

Zero melompat dan langsung menebas Gnome-X. TRAAASSHH! Percikan kembang api tampak keluar dari gesekan pedang dan armor dari Gnome-X. Bersamaan dengan itu Gnome-X terangkat ke udara, tapi Gnome-X dengan sigap kembali lagi ke bawah. Zero kemudian mendaratkan tendangan ke kepala Gnome-X. Tapi Gnome-X tak bergeming.

“Han….Jeong…..!” gumam Yuda.

“Apa kau bilang?” kata Ryu.

Gnome-X memegang kaki Zero kemudian dilemparkannya samurai itu. Zero pun menghantam sebuah stand hingga tembus menghantam tembok dan keluar dari mall, Dia pun terjun bebas dari lantai tiga mall jatuh dengan menyakitkan di atas sebuah mobil SUV yang tepakir di luar mall.

BRAK! NGUING! NGUING! NGUING! NGUING!

Terdengar suara alarm mobil bersahut-sahutan di tempat itu. Ryu dengan susah payah berusaha bangkit. Dia kemudian terbang lagi mencari-cari Gnome-X. Belum sempat ia menemukannya dari arah samping, Gnome-X sudah muncul dan menghadiahkannya sebuah bogem mentah yang langsung menghempaskan Zero menjauh dari tempat dia berada sekarang.

Untuk menghindari jatuhnya dirinya maka Zero pun berputar-putar dengan cepat dan menyalakan energi pendorong di punggungnya untuk kembali ke tempatnya semula dan menyerang balik Gnome-X. Zero membalas tendangan Gnome-X sehingga Gnome-X melesat hingga menghantam sebuah gedung perkantoran. Ternyata Gnome-X cukup cepat refleknya, dia sudah berada di depan Zero. Dicengkramnya kedua lengan Zero.

“Sebenarnya, kau ini kecepatannya secepat apa?” tanya Ryu.

“Dalam mode Face Off Gnome-X mampu bergerak melebihi supersonik,” kata Ai di alat komunkasi Ryu.

“Oh, pantas,” gumam Ryu.

Dari helm Gnome-X muncul kilatan cahaya berwarna merah. Kilatnya menyambar-nyambar kemudian berkumpul jadi satu membentuk sebuah bola energi besar.

“Uh-oh! Kamu mau membunuhku, Yuda?”

“Han….Jeong…..too….loong…a….kkhhhuu, ” bisik Yuda lagi.

“Han Jeong? Kamu mencari Han Jeong??”

“RRROOAAAARRGHHH!” Gnome-X mengerang lagi dan hampir saja ia memuntahkan sinar laser beam besarnya ke arah Zero, sebelum Zero melengkungkan badannya dan menghantamkan lututnya ke dagu Gnome-X. Gnome-X pun menembakkan laser beamnya ke udara. Pegangan Gnome-X terlepas.

Zero menjauh sedikit dari Gnome-X.

“Baiklah, aku akan mengeluarkan Kaze no Ryu Tsuki no Kiritoru. Maafkan aku Yuda, tapi kamu harus ditaklukkan!” kata Ryu.

Zero menghadapkan katana di tangan kanannya ke bawah. Ia mengatur nafasnya. Gnome-X kembali menghadapnya. Cahaya berwarna merah kembali terkumpul.

“Ayo, kita adu kekuatan kita, Yuda!” Zero menebaskan katananya. “Tebasan pertama!”

Hembusan angin menusuk dan menerjang ke arah Gnome-X. Sama sekali Gnome-X tak bergeming. Ryu seakan-akan tak percaya. Dia pun mengeluarkan tebasan kedua bahkan lebih cepat dari yang pertama. Bersamaan dengan itu Gnome-X menembakkan laser beam dari helmnya.

ZAABOOOOOOOMMMMM!

Ledakan dari benturan energi pun tak terhindarkan lagi. Ryu mundur beberapa meter karena hempasan energi yang besar itu. Dua kekuatan bertemu dan laser beam itu bisa dimentahkan. Tapi rasanya Gnome-X masih tidak jatuh sama sekali. Ryu menyilangkan kedua katananya dan menebaskannya secara bersamaan. Seketika itu angin menyingkir dari sekitar Gnome-X. Sama seperti dia melakukan tebasan ketiga sebelumnya.

“Jangan bergerak Yuda, atau kamu akan ter….,” belum sempat Ryu bicara, Gnome-X sudah bergerak maju.

ZARRRSHH! ZARRRSHH! ZARRRSHH! ZARRRSHH! ZARRRSHH!

Terdengar suara angin mencoba menyayat-nyayat armor Gnome-X, tapi karena armor itu terbuat dari Adamantium tak ada satupun yang sanggup memotong-motong Gnome-X. Zero terperangah. Ia seakan-akan tak percaya terhadap apa yang baru saja ia lihat.

“Bakemono! Dasar monster! Ilmuku tidak mempan!?”

Gnome-X mengambil gagang yang ada di punggungnya. Ryu merasakan perasaan buruk akan menimpanya.

“Pedang itu, Gnome Blade! Brengsek! Dengan apa aku menghadapinya sekarang kalau semua senjataku tak ada yang bisa melukainya?? Ai, sampai kapan aku harus bertahan?” tanya Ryu dengan rasa khawatir.

“Satu menit lagi kurang lebih, bisa jadi lebih,” jawab Ai.

“Yang benar saja, aku tak punya waktu lebih dari itu!” kata Ryu.

“Aku sedang mencoba menetralisir sinyal yang ada di otaknya, bersabarlah. Sedikit kesalahan akan membuat Yuda tewas,” kata Ai.

“Baiklah. Ayo Yuda, keluarkan seluruh kemampuanmu. Aku akan menerimanya!” kata Ryu.

Kedua tangan Gnome-X kini ada dua pedang. Pedang beam yang pernah digunakannya untuk memotong CUMI-08 dan juga menghancurkan bangunan hotel The Continental. Kedua pedang beam itu pun disatukan oleh Gnome-X. Kilauan cahayanya pun berpendar. Terbentuknya sepasang sayap dari pegangan pedangnya, menyebar ke semua arah.

Ryu dengan armor Zeronya yang sudah rusak di sana-sini mulai bersiap untuk menahan serangan yang akan dilakukan oleh Gnome-X. Ia menyilangkan pedangnya untuk bertahan.

Kemudian dengan satu gerakan Gnome-X mengarahkan pedang beam yang sangat panjang itu ke bawah, tepat ke arah Zero. Ryu, menahan nafasnya. Sebentar lagi ia akan menerima benturan kekuatan dari Gnome Blade. Pedang beam yang panjang dan menyebar menindih Zero yang bertahan dengan kedua katananya. Armor Zero mulai retak dan terbuka. Ryu merasakan hawa panas di dalam armornya. Benturan kekuatan yang tidak sebanding.

“Ggghhh….Hana-chan, Hana-chan….aku harus hidup untuk Hana-chan. Aku akan bersama Hana-chan….Hoooriyyaaaahhh!” Ryu berteriak bersamaan tenggelamnya dia dalam kekuatan pedang beam raksasa yang membelah kota Jakarta menjadi dua bagian itu dari selatan hingga ke utara. Sebagian energinya bahkan menyentuh sebagian pinggir dari Tugu Monas yang kokoh berdiri. Energi beam itu baru menghilang setelah sampai ke laut.

Bram yang saat itu masih duduk di Taman Cendana masih mengatur nafasnya. Dia masih belum beranjak dari tempat dia terakhir kali bertarung tadi. Dia sibuk memunguti pena-pena runcingnya yang berserakan, hingga ia melihat cahaya yang membelah langit berada tepat di atasnya.

“What the fuck….?” mungkin itulah kata-kata terakhirnya sebelum pedang Beam Gnome-X ikut menenggelamkan tubuhnya hingga hancur bersamaan sebagian dari Taman Cendana.

Gnome-X mengakhiri serangannya. Pedang Beamnya menyusut dan hanya tersisa sedikit energi di ujung pedang beamnya. Gnome-X mengembalikan gagang pedang itu ke punggungnya. Helmnya sudah tertutup. Face Off Mode Gnome-X sudah berakhir. Di bawahnya tampak Ryu dengan Armor Zero yang sudah hancur tak berbentuk lagi masih berdiri bertahan dengan menyilangkan pedangnya. Dia berjuang sampai akhir, bertahan sampai akhir. Helm Zeronya tinggal separuh sehingga wajahnya hanya separuh terlihat, armor Zeronya telah rusak semuanya, dia pun kemudian menjadi manusia biasa. Setelah energi dari Armor Zeronya habis.

Ryu pun pasrah sekarang ia menahan tubuhnya dengan kedua katananya. Nafasnya terengah-engah. Luka-luka di tubuhnya tak terhitung, bajunya compang-camping.

“Ai, aku tak bisa bertahan lagi,” kata Ryu.

BLAM! WUUUZZZHHH!

Tiba-tiba sesosok berwarna hitam dengan energi berwarna putih di punggungnya menghantam Gnome-X lalu mendorongnya melesat menjauh dari tempat itu. Ryu memicingkan matanya.

“Hah? Siapa itu?”

Tapi karena ia sudah tak ada tenaga lagi, akhirnya ia pun ambruk ke tanah. Ia tak sadarkan diri lagi.

******~o~*****

Di pinggir pantai tampak dua orang, laki-laki dan wanita sedang melihat monster laut Titan dari kejauhan. Sebentar lagi Tsunami akan menghantam pantai. Laki-laki itu menggunakan gelangnya dia menyatukan telapak tangannya. Kemudian menghantamkannya ke tanah. Seketika itu muncullah tembok besar dan menjulang tinggi ke atas sampai berpuluh-puluh meter tingginya. Kemudian sang wanita pun melakukan hal yang sama. Mereka melakukannya separuh kanan milik sang laki-laki, separuh yang kiri milik sang wanita.

Tsunami pun menerjang tembok itu tapi tidak sampai menghantam pelabuhan. Airnya tertampung, tertahan seperti bendungan. Sebuah kejutan kekuatan dari keduanya. Lebih dari itu setelah terbangunnya tembok besar itu muncullah sebuah pohon yang besar membendung garis pantai yang panjang sehingga tsunami tidak menghantam ke pantai.

“Jadi nostalgia,” kata sang laki-laki.

“Paling tidak kekuatan kita masih berguna sampai sekarang,” kata sang wanita.

Orang-orang tampak tertegun dengan tembok raksasa yang menghalangi air tsunami menghantam ke daratan. Kedua orang laki-laki dan wanita itu tak ingin dikenal. Mereka misterius, tapi mereka tentunya hanya dikenal oleh sebagian saja. Mereka dulu dikenal dengan nama Andre dan Puri alias Purple.

(bersambung…..)

Author: 

Related Posts